LAPORAN PEMBENIHAN IKAN 2011

  1. I.                   PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang

            Pembenihan adalah salah satu bentuk unit pengembangan budidaya ikan. Pembenihan ini merupakan salah satu titik awal untuk memulai budidaya. Ikan yang akan dibudidayakan harus dapat tumbuh dan berkembang biak agar kontinuitas produksi budidaya dapat berkelanjutan. Untuk dapat menghasilkan benih yang bermutu dalam jumlah yang memadai dan waktu yang tepat mesti diimbangi dengan pengoptimalan penanganan induk dan larva yang dihasilkan melalui pembenihan yang baik dan berkualitas. Pembenihan dengan ikut campur tangan manusia atau fertilisasi buatan sudah dapat dilakukan pada berbagai jenis ikan, khususnya bagi ikan yang penjualannya tinggi di pasaran diantaranya  komoditas ikan air tawar seperti lele, nila, gurami dan lain-lain.

Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan ( Suyanto, 1991). Sehingga pemijahan ikan ini terkendala akan musim, untuk itu pemenuhan akan bibit ikan lele yang bermutu dan sesuai dengan waktu akan sulit terpenuhi.

Salah satu cara mengatasi masalah di atas dapat dengan pemijahan buatan pada ikan lele. Pemijahan buatan dapat dengan pemberian hormon. Pemberian hormon ini akan membantu fertilisasi ikan tanpa perlu terkendala musim sehingga dapat dipijahkan kapanpun sesuai keinginan. Oleh karena itu praktikum tekhnologi pembenihan ikan ini sangat diperlukan untuk menambah wawasan mahasiswa dalam mengetahui teknik-teknik dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembenihan ikan. mulai dari seksualitas primer dan sekunder ikan, teknik pembuatan ekstraksi kelenjar pituitary, teknik fertilisasi buatan hingga pada penanganan dan perkembangan telur.

1.2              Tujuan Praktikum

Tujuan dalam praktikum kali ini antara lain:

  1. Mahasiswa dapat mengetahui perbedaan antara ikan jantan dan betina melalui pengamatan pada seks primer dan sekunder ikan.
  2. Mahasiswa diharapkan mampu menyediakan hormon GnRH dari ekstrak kelenjar pituitary.

3.      Untuk dapat mengenali induk ikan yang siap memijah

4.      Untuk dapat mengetahui cara penyuntikan ikan

5.      Untuk dapat mengetahui teknik stripping

6.      Untuk dapat mengetahui teknik pencampuran teliur dan sperma

7.      Untuk dapat mengetahui teknik inkubasi telur

8.      Untuk mampu membedakan antara bentuk telur yang terbuahi dan tidak terbuahi

9.      Mengetahui perkembangan telur sejak fertilisasi hingga penetasan telur

 

1.3  Manfaat Praktikum

Manfaat dari praktikum ini yakni dapat menambah wawasan mahasiswa secara langsung mengenai teknik pembenihan ikan dan keterampilan melakukannya sehingga nantinya dapat diaplikasikan secara langsung dalam prakteknya ke depan.

 

 

 

  1. II.                TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Identifikasi dan Taksonomi Ikan

2.1.1 Identifikasi dan taksonomi ikan komet

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Chordata

Class                : Actinopterygii

Ordo                : Chpriniformes

Famili              : Chyprinidae

Genus              : Carassius

Spesies            : Carassius auratus (Goernaso, 2005).

Bentuk tubuh ikan mas komet memanjang dan memipih, tegak (compressed) dengan mulut terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Bagian ujung mulut ini memiliki dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang tersusun dari tiga baris. Sisik ikan mas komet berukuran relatif kecil dan bergerigi dimana seluruh bagian siripnya berbentuk rumbai-rumbai atau panjang. Gurat sisi (linnea lateralaris) pada ikan komet tergolong lengkap, berada dipertengahan tubuh dengan posisi melentang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Ciri dari ikan jantan adalah sirip dada relatif panjang dengan jari-jari luar tebal, lapisan sirip dada kasar, kepala tidak melebar dan tubuh lebih tipis, langsing atau ramping dibandingkan betina pada umur yang sama. Sedangkan ciri ikan betina yakni sirip dada relatif pendek, lunak, lemah dengan jari-jari luar tipis, lapisan dalam sirip dada licin, kepala relatif kecil, bentuknya agak meruncing dan tubuh lebih tebal atau gemuk dibandingkan jantan pada umur yang sama (Anonim, 2011).

 

 

2.1.1 Identifikasi dan taksonomi ikan nila

Kingdom           :Animalia
Phylum              :Chordata
Class                  :Osteichtyes
Ordo                  :Perciformes
Famili                 :Cichlidae
Genus                :Oreochromis
Spesies               : Oreochromis niloticus

Tubuh ikan ini berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap melintang (belang) yang makin tidak jelas pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis tegak, 7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung dengan warna merah atau kemerahan ketika musim berbiak. Ikan nila yang masih kecil belum tampak perbedaan alat kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai 50 gram, baru dapat diketahui perbedaan antara jantan dan betina. Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, disamping lubang anus terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai saluran pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih gelap, dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh (Anonim,2011).

 

2.1.3 Identifikasi dan taksonomi ikan bawal

Filum                 : Chordata

Subfilum            : Craniata

Kelas                  : Pisces

Subkelas            : Neoptergii

Ordo                  :Cypriniformes

Subordo             : Cyprinoidae

Famili                 : Characidae

Genus                : Colossoma

Spesies               : Colossoma macropomum ( Guzfir, 2009).

Warna tubuh ikan bawal abu-abu tua. Dengan bentuk tubuh tegak dan membulat, sisik berbentuk cycloid berwarna perak dan pada kedua sisi tubuhnya terdapat bercak hitam. Tubuh bagian ventral dan sekitar sirip dada ikan bawal muda berwarna merah, ikan bawal memiliki bibir bawah yang menonjol dan memiliki gigi-gigi besar dan tajam. Ikan bawal yang tumbuh normal dapat memijah setelah umur 4 tahun dengan berat badan mencapai 4 kg. Induk ikan jantan dan betina dapat diseleksi berdasarkan perbedaan kelamin sekunder. Pada umumnya, induk ikan betina memiliki postur tubuh melebar dan pendek, operculum halus dan warna kulit lebih gelap. Perut dan bibir urogenitalnya berwarna merah atau kemerah-merahan. Perut lembek dan lubang kelamin agak membuka. Sedangkan postur ikan jantan relatife lebih langsing, panjang dan operculumnya agak kasar (Abbas, 2001).

 

 

2.1.4 Identifikasi dan taksonomi ikan lele

Kingdom         : Animalia

Phyllum           : Chordata

Sub-phyllum    : Vertebrata

Kelas               : Pisces

Ordo                : Ostariophysi

Familia            : Clariidae

Genus              : Clarias

Species            : Clarias batrachus (Suyanto 2007).

Tubuhnya berbentuk silinder, dengan kepala pipih ke bawah (depressed), sedangkan bagian belakang tubuhnya berbentuk pipih kesamping (compressed), Kepala bagian atas dan bawah tertutup oleh pelat tulang. Pelat ini membentuk ruangan rongga di atas insang. Disinilah terdapat alat pernapasan tambahan yang tergabung dengan busur insang kedua dan keempat. Mulut berada diujung moncong (terminal), dengan dihiasi 4 pasang sungut. Lubang hidung yang di depan merupakan tabung pendek yang berada di belakang bibir atas, lubang hidung sebelah belakang merupakan celah bundar yang berada di belakang sungut nasal. Mata kecil dengan tepi orbital yang bebas. Sirip ekor membulat, tidak bergabung dengan sirip punggung maupun sirip anal. Sirip perut berbentuk membulat dan panjangnya mencapai sirip anal. Sirip dada dilengkapi sepasang duri tajam / patil yang memiliki panjang maksimum mencapai 400 mm. Ciri-ciri induk betina ikan lele adalah genital papila berbentuk bundar (oval), bagian perut relatif lebih besar, gerakan lambat, jika di raba bagian perut terasa lembek dan alat kelamin berwarna kemerah merahan. Sedangkan induk jantan dicirikan dengan genitalnya meruncing ke arah ekor, perut ramping dan pada ujung alat kelamin berwarna kemerahan selain itu ada perubahan warna tubuh menjadi coklat kemerahan (Suyanto, 1991).

 

2.2  Teknik Pembenihan Ikan

2.2.1 Pembenihan ikan lele

Pembenihan ikan lele terbagi dalam 2 cara, yaitu : pertama secara alami, pemijahan secara alami adalah pemijahan yang dilakukan di alam terbuka sesuai dengan sifat hidupnya tanpa perlakuan dan bantuan manusia. Secara Disuntik Dengan Kelenjar Hipofisa Penyuntikan dengan kelenjar hipofisa adalah pemijahan yang dilakukan dengan bantuan atau penanganan manusia melalui pemberian kelenjar hormon hipofisa pada recipient (penerima) yang berguna untuk melancarkan proses kematangan gonad, sehingga mempercepat proses jalannya pemijahan ikan tersebut (Anonim, 2011).

 

2.2.2 Fertilisasi alami dan buatan ikan lele

Pemijahan ikan lele secara alami dapat dilakukan dengan memijahkan induk jantan dan betina tanpa perlakuan khusus. Induk ikan lele memijah berdasarkan kondisi alam dan ikan itu sendiri. Kelemahan pemijahan secara alami adalah   pemijahan induk belum dapat diperkirakan waktunya sehingga ketersediaan telur juga belum dapat diperkirakan. Pada ikan lele yang akan dilakukan pemijahan secara buatan maka pengambilan sperma dilakukan dengan pembedahan perut induk jantan. Selanjutnya sperma  diambil dan dibersihkan dari darah dengan menggunakan tissue. Kelenjar sperma  dipotong-potong dengan menggunakan gunting kemudian ditekan secara halus untuk mengeluarkan sel sperma dari kelenjar sperma tersebut, lalu diencerkan di dalam larutan sodium clorida 0.9 % dalam mangkuk plastik yang bersih.  Pengurutan induk betina dilakukan dengan hati-hati agar induk tersebut tidak terluka. Telur induk betina tersebut ditampung dalam baki dan pada waktu yang bersamaan sperma yang telah disiapkan sebelumnya dicampur dengan telur. Telur dan sperma diaduk menggunakan bulu ayam. Setelah telur dan sperma tercampur merata, lalu ditambah air sampai semua telur terendam dan biarkan beberapa menit agar semua telur terbuahi oleh sperma. Air rendaman yang berwarna putih selanjutnya di buang (Gusrina, 2008).

 

2.2.3 Perkembangan dan penanganan telur ikan lele

Perkembangan embrio dimulai dari pembelahan zygote (cleavage), stadia morula (morulasi), stadia blastula (blastulasi), stadia gastrula (gastrulasi) dan stadia organogenesis.

 

  1. Stadia Cleavage

Cleavage adalah pembelahan zygote secara cepat menjadi unit-unit yang lebih kecil yang di sebut blastomer. Stadium cleavage merupakan rangkaian mitosis yang berlangsung berturut-turut segera setelah terjadi pembuahan yang menghasilkan morula dan blastomer.

  1. Stadia morula

Morula merupakan pembelahan sel yang terjadi setelah sel berjumlah 32 sel dan berakhir bila sel sudah menghasilkan sejumlah blastomer yang berukuran sama akan tetapi ukurannya lebih kecil. Sel tersebut memadat untuk menjadi blastodik kecil yang membentuk dua lapisan sel.  Pada saat ini ukuran sel mulai beragam.

  1. Stadia blastula

Blastulasi adalah proses yang menghasilkan blastula yaitu campuran sel-sel blastoderm yang membentuk rongga penuh cairan sebagai blastocoel. Pada akhir blastulasi, sel-sel blastoderm akan terdiri dari neural, epidermal, notochordal, meso-dermal, dan endodermal yang merupakan bakal pembentuk organ-organ. Dicirikan dua lapisan yang sangat nyata dari sel-sel datar membentuk blastocoels dan blastodisk berada di lubang vegetal berpindah menutupi sebagian besar kuning telur.

  1. Stadia gastrula

Gastrulasi adalah proses perkembangan embrio, dimana sel bakal organ yang telah terbentuk pada stadia blastula mengalami perkembangan lebih lanjut.

  1. Stadia organogenesis

Organogenesis merupakan stadia terakhir dari proses perkembangan embrio. Stadia ini merupakan  proses pembentukan organ-organ tubuh makhluk hidup yang sedang berkembang. Dalam proses organogenesis terbentuk berturut-turut bakal organ yaitu syaraf notochorda, mata, somit, rongga kuffer, kantong alfaktori, rongga ginjal, usus, tulang subnotochord linea lateralis, jantung, aorta, insang infundibullum dan lipatan-lipatan sirip. Sistem organ-organ tubuh ( Zairin.M.J., 2002 ).

 

Menurut Tucker, C.S and Hargreaves, J.A. 2004 untuk penanganannya telur ikan lele biasanya telurnya dilekatkan pada substrat. Telur yang telah menempel pada kakaban dapat ditetaskan dalam wadah budidaya disesuaikan dengan sistem budidaya yang akan diaplikasikan. Selama penetasan telur, air dialirkan terus menerus. Seluruh telur yang akan ditetaskan harus terendam air, kakaban yang penuh dengan telur diletakan terbalik sehingga telur menghadap ke dasar bak. Dengan demikian telur akan terendam air seluruhnya. Telur yang telah dibuahi berwarna kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Di dalam proses penetasan telur diperlukan suplai oksigen yang cukup. Untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen terlarut dalam air, setiap bak penetasan di pasang aerasi. Telur akan menetas tergantung dari suhu air wadah penetasan dan suhu udara. Jika suhu semakin panas, telur akan menetas semakin cepat. Begitu juga sebaliknya, jika suhu rendah, menetasnya semakin lama.


 

 

 

  1. III.             METODE PELAKSANAAN

 

 

3.1 Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum ini dilakukan pada tanggal 28 hingga 30 Mei 2011 di Lingsar-Lombok Barat dan dilanjutkan dengan pengamatan telur pada tanggal 30 Mei 2011 di lab Budidaya Perairan Universitas Mataram.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah Metode Deskriftif yaitu metode yang memberi gambaran secara lengkap, sistematis dan factual mengenai data atau  kegiatan yang tidak terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data semata, tetapi juga melipuknik ti analisa dan pembahasan data yang diperoleh sehingga dapat memberikan informasi lengkap tentang Teknik Pembenihan Ikan yang meliputi : seksualitas primer dan sekunder pada ikan nila, komet, dan bawal ; pemijahan buatan terhadap ikan lele ; dan perkembangan telur ikan lele.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

            Pengumpulan data dilakukan dengan cara : 1). Observasi lapangan; 2). Partisipasi langsung; 3). Wawancara; dan 4). Studi literatur. Data yang dikumpulkan berupa data primer yaitu berupa data yang diambil dari sumbernya secara langsung, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya dan data sekunder yaitu informasi yang telah dikumpulkan dari pihak lain seperti dosen, asisten dosen dan masyarakat yang terkait pada bidang perikanan,khususnya bidang pembenihan ikan.


 

3.4 Prosedur Pengamatan

3.4.1 Seksualitas Primer dan Sekunder Ikan

3.4.1.1  Pengamatan Seks Sekunder

Ikan Komet, Nila dan Bawal masing-masing satu pasang dimasukkan ke dalam akuarium. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap warna, bentuk tubuh, bentuk sirip dan morfologi lainnya dari ketiga ikan tersebut. Dicatat hasilnya dalam table pengamatan.

3.4.1.2 Pengamatan seksualitas primer

Ikan Komet, Nila dan Bawal masing-masing diangkat kemudian diamati alat kelamin luarnya. Diamati perbedaan bentuk alat kelamin, jumlah saluran pengeluaran, dan warna alat kelamin. Setelah itu dilakukan  pembedahan pada pada ikan tersebut kemudian diamati bentuk gonad, dan bagian isi/dalam gonad. Pengamatan isi gonad dengan menggunakan mikroskop. Dicatat hasilnya dalam table pengamatan.

 

3.4.2        Pembuatan ekstrak kelenjar pituitary

Pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang di butuhkan. Kemudian ditentukan dosis atau berat ikan donor yang akan digunakan (berdasarkan berat induk yang akan disuntik). Dipotong kepala ikan donor sampai putus pada tepi operculum. Kepala ikan yang telah dipotong diletakan dengan posisi mulut menghadap ke atas, lalu sayat mulai dari dekat lubang hidung ke bawah. Dibuka tengkorak ikan agar otaknya dapat terlihat dengan jelas. Lemak, darah, dan jaringan-jaringan yang biasanya menutupi otak dibersihkan dengan tissue, lalu diangkat otak tersebut. Biasanya kelenjar hipofisa tertinngal pada sella tursica berbentuk bulat kecil berwarna putih. Di ambil kelenjar hipofisa tersebut dengan hati-hati dengan menggunakan pinset, kemudian dihancurkan dalam penggerus jaring dengan cara memutarkan batang alurnya sambil diletakkan dam sambil di beri aquades sekitar 0,2 ml. Setelah benar-benar hancur, ditambahkan NaCl 0.9 % sebanyak 0.2 ml sehingga menjadi 1-1,5 ml atau tergantung kebutuhan (tidak boleh  lebih dari 5 ml). Dengan menggunakan spuit berjarum besar, dipindahkan suspensi ke tabung sentrifuse, lalu di sentrifuse hingga jaringan-jaringan kasar mengendap. Sebagai hasilnya diperoleh suspense yang agak jernih. Suspense tersebut di ambil dengan menggunakan jarum spuit untuk dipindahkan ke dalam tabung reaksi yang beresih. Pastikan ampas kelenjar hipofisa tidak ikut terambil. Kemudian ekstrak kelenjar hipofisa siap disuntikan.

3.4.3        Fertilisasi Buatan

Induk ikan yang siap disuntik diambil dan diamati bentuk dan warna alat kelaminya. Bagian genitalnya ditekan dengan halus sampai ada cairan yang keluar. Larutan hormon buatan yang berasal dari ekstrak kelenjar pituytari (1 resipien : 3 donor). Suntikan hormon tersebut pada bagian punggung sebelah kanan . Penyuntikan I dilakukan dengan dosis 0.1 ml atau 70 %, dengan kemiringan 450 mengarah ke kepala. Enam jam kemudian dilakukan penyuntikan kedua. Bagian yamg disuntik adalah bagian punggung sebelah kiri. Mengembalikan induk ke kolam pemijahan, dan membiarkan induk memijah sendiri. Setelah 6-10 jam dari penyuntikan biasanya akan terjadi pemijahan.

3.4.4        Perkembangan Telur

Pertama diambil telur yang telah terbuahi dalam akuarium. Setelah itu dilakukan pengamatan pada telur dengan menggunakan mikroskop. Dilakukan pengamatan setiap 10 menit pada 2 jam pertama setelah fertilisasi. Dilakukan pengamatan setiap 30 menit mulai pada jam ke-2 sampai pada jam ke-7. Dilakukan pengamatan setiap 60 menit mulai jam ke-7 hingga penetasan. Kemudian digambar setiap fase perkembangan embrio (sebaiknya menggunakan kamera) dan dicatat waktu pengamatan.

 

 

3.5 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

3.5.1 Alat praktikum

Alat-alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum ini antara lain adalah akuarium, alat bedah, mikroskop, lup, penggerus, tabung reaksi, timbangan duduk, pipet tetes, talenan, pendingin/coolbox, selang kateter, petri dish, lap halus, mangkok porselain atau kaca, bulu ayam, aerator, gelas objek, stopwatc/jam, termometer dan heater, kakaban ijuk.

3.5.2 Bahan praktikum

Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan praktikum antara lain yaitu induk ikan lele satu pasang, ikan komet satu pasang, ikan nila satu pasang, ikan bawal satu pasang, ikan donor (nila) 3 kg, aquadest, tissue, larutan pencuci telur, NaCl 0.9% dan telur ikan yang terbuahi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1              Seksualitas Primer dan Sekunder Ikan

Tabel 1. hasil pengamatan seksualitas primer dan sekunder pada ikan

Parameter

Ikan Komet

Ikan Nila

Ikan Bawal

A

B

A

B

A

B

C

Seksualitas Sekunder  
Warna/pola warna Warna sirip putih Warna sirip merah Abu cerah, warna mulut bawah kuning keputihan Abu gelap, mulut bawah kuning kemerahan Cerah, bagian bawah tubuh putih abu Abu gelap Abu cerah,
Bentuk badan/proporsi badan ramping

Badan kembung

P: 157 cm

L: 63 cm

P: 155 cm

L: 60 cm

P: 167 cm

L: 60 cm

P: 166 cm

L: 53 cm

P: 145 cm

L: 55 cm

Bentuk sirip

-

-

-

-

-

-

-

Perut        

Lembek

Keras/kaku  
Seksualitas Primer  
Warna alat kelamin Merah kecoklat-an Merah kecoklat-an     Putih,bulat kecil merah, menonjol lonjong  
Saluran kelamin

1

2

2

2

 
Gambar gonad              
Kesimpulan

Jantan

-

Betina

Betina

Betina

Jantan

Betina

Seksual primer dan seksual sekunder pada ikan akan menunjukan jenis kelamin dari ikan tersebut. Pengetahuan ini sangat penting dalam budidaya khususnya pada saat akan melakukan pembenihan ikan tersebut. Seksualitas primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina dan testis beserta pembuluhnya untuk ikan jantan. Pada hasil pengamatan di atas dapat dilihat pada ikan komet jantan (A) warna alat kelaminnya merah kecoklatan dengan saluran kelamin sebanyak 1 buah. Komet (B) warna alat kelaminnya merah kecoklatan dengan saluran kelamin sebanyak 2 buah namun belum diketahui jenis kelaminnya. Yang menjadi patokan saat akan menentukan jenis kelamin ini dengan melakukan pembedahan dan dilihat gonadnya. Pada ikan komet A mempunyai testis saat dilihat dimikroskop namun pada ikan komet B tidak dapat ditentukan karena tidak jelas dimikroskop dan sisa gonadnya terbuang. Pada ikan nila pun demikian seksualitas primernya tidak dapat dilihat secara langsung dari genitalnya namun dengan jalan pembedahan ikan tersebut. Baik pada ikan A maupun B memiliki telur dalam perutnya. Sedangkan pada ikan bawal (A) warna genitalnya putih dan bulat kecil dengan saluran kelamin sebanyak 2 buah dan setelah dibelah memiliki telur hal ini menunjukkan ikan ini betina, pada ikan (B) warna dari genitalnya merah, menonjol lonjong dengan saluran kelamin 2 buah, setelah dibedah memiliki testis sehingga ikan ini berjenis kelamin jantan. Sedangkan ikan terakhir (C) setelah dibedah dia memiliki telur hal ini menunjukan ikan ini betina.

Seksuallitas sekunder ini menyangkut tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina. Pada ikan komet A warna siripnya  putih dengan tubuh ramping yang menunjukan ikan tersebut jantan sedangkan pada ikan komet B dengan warna sirip merah dan badan kembung namun masih belum dapat ditentukan jenis kelaminnya. Pada ikan nila A dan B memiliki jenis kelamin yang sama yakni betina namun dari segi seksualitas sekunder yang membedakannya yakni  warna tubuh abu cerah, warna mulut bawah kuning keputihan pada ikan A dan pada ikan B warna tubuh abu gelap, mulut bawah kuning kemerahan. Sedangkan pada ikan bawal A warna tubuh cerah dengan bagian bawah tubuh putih abu dan perut lembek men. unjukan ikan tersebut betina, pada ikan bawal B warna tubuh abu gelap dengan perut kaku menunjukan ikan tersebut jantan. Sedangkan pada ikan bawal C berwarna abu cerah menunjukan ikan tersebut betina.

 

4.2              Pembuatan ekstrak kelenjar pituitary

Tabel 2. Data hasil pembuatan ekstrak kelenjar pituitary

Uraian

Jumlah

Berat induk 1 kg
Berat total ikan donor 3 kg
Volume total ekstrak kelenjar 0.5 ml

 

Kelenjar hipofisa (pituitary) banyak sekali mengandung hormon terutama hormon yang berhubungan dengan perkembangan dan pematangan gonad. Hormon tersebut diantaranya adalah Gonadotropin yaitu GTH I dan GTH II, sehingga ekstrak kelenjar hipofisa sering digunakan gonad. Le tak kelenjar hipofisa ini terdapat pada bagian otak sebelah depan. Untuk kebutuhan ikan yang memiliki bobot 1 kg diperlukan 3 kg ikan donor, dengan kata lain perbandingannya 1:3.Setelah mendapatkan kelenjar tersebut kemudian digerus dengan alat gerus dalam tabung reaksi dan ditambahkan NaCl sebanyak 0,2 ml. Tujuan pemberian NaCl agar terlepasnya ampas dari larutan karena ampas ini akan dapat menyumbat saat akan dilakukan penyuntikan dan agar larutan tersebut lebih encer sehingga mudah untuk disuntikan ke ikan indukan. Pada kelompok empat hasil ekstrak kelenjar pituitarynya tidak digunakan karena terlalu sedikit sehingga digantikan dengan hormon ovaprim sebanyak 0,15 ml.

 

 

4.3              Fertilisasi buatan

Tabel 3. Hasil pengamatan fertilisasi buatan

Parameter

Ikan Lele

Berat induk jantan/betina 300 gram
Kesiapan induk untuk disuntik Ada telur yang keluar
Gambar telur yang diambil dan bagiannya  
Jenis dan volume serta waktu penggunaan hormon Hormon ovaprim sebanyak 0.15 ml ( 0.3 x 0.5 )

Penyuntikan I sebanyak 0.1 ml jam 12.30

Penyuntikan II sebanyak 0.05 ml jam 18.30

Waktu fertilisasi Jam 03.20

Fertilisasi buatan atau  pembuahan secara buatan dilakukan dengan bantuan manusia, dengan cara mempertemukan sel telur dengan sel sperma pada suatu tempat tertentu dan dengan alat tertentu. Proses melakukan pembuahan buatan ini diperlukan sikap kehati-hatian agar induk tidak terluka atau proses penempelan sperma pada sel telur merata. Meratanya sperma menempel pada telur akan menambah jumlah pembuahan sperma pada sel telur. Proses pembuahan buatan ini membutuhkan waktu tertentu, maksudnya jika terlalu lama maka sperma atau sel telur bisa mati atau terganggu. Jika demikian keadaannya proses pembuahan tidak akan berhasil dengan baik. Pada praktikum kali ini sebelum dilakukannya fertilisasi buatan diawali dengan pengecekan kesiapan induk untuk penyuntikan dengan cara melakukan striping terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena induk yang berhasil untuk dipijahkan yakni induk yang telah telah melewati fase pembentukan kuning telur (fase vitellogenesis) dan masuk ke fase dorman dimana dilihat dari adanya telur yang keluar jika diurut perutnya (ovulasi). Setelah mengetahui induk betina itu siap maka indukkan tersebut disuntik dengan hormon ovaprim sebanyak 0,15 ml. Ovaprim adalah campuran analog salmon GnRH dan Anti dopamine dinyatakan disini bahwa setiap 1 ml ovaprim mengandung 20 ug GnRH-a(D-Arg6-Trp7, Lcu8, Pro9-NET) – LHRH dan 10 mg anti dopamine. Ovaprim juga  berperan dalam memacu terjadinya ovulasi. Pada proses pematangan gonad GnRH analog yang terkandung didalamnya berperan merangsang hipofisa untuk melepaskan gonadotropin. Sedangkan sekresi gonadotropin akan dihambat oleh dopamine. Bila dopamine dihalangi dengan antagonisnya maka peran dopamine akan terhenti, sehingga sekresi gonadotropin akan meningkat (Gusrina, 2008). Penyuntikannya dilakukan dengan bertahap dan dengan beberapa kali dosis. Untuk penyuntikan pertama dengan dosis 70 % sebanyak 0,1 ml pada punggung sebelah kanan. Enam jam kemudian disuntik kembali dengan dosis 0,05 ml yakni 30% namun pada punggung sebelah kiri agar menghindari ikan tersebut merasa sakit jika disuntik ditempat yang sama. Delapan  jam kemudian induk betina distriping dan telurnya dikumpulkan dalam ember. Ikan lele jantan dibedah dan gonadnya diambil kemudian spermanya dicampurkan dengan sel telur. Setelah dicampur merata kemudian ditebarkan dalam akuarium yang berisi kakaban dan diberi aerasi. Pengamatan telur kemudian dilakuakan setelah satu jam dari fertilisasi tersebut.

4.4              Perkembangan Telur

Tabel 4. hasil pengamatan perkembangan telur

Waktu Pengamatan

Stadia Perkembangan

Keterangan atau Gambar

Jam 04.10

Fase persiapan pembelahan

 

Jam 04.30

Fase persiapan pembelahan

 

Jam 05.10

Fase persiapan pembelahan

 

Jam 05.40

Fase persiapan pembelahan

 

Jam 06.10

Fase persiapan pembelahan

 

Jam 06.40

Fase persiapan pembelahan

 

Jam 07.10

Fase persiapan pembelahan

 

Jam 07.40

Fase persiapan pembelahan

 

Jam 08.10

Fase persiapan pembelahan

 

Jam 08.40

Fase persiapan pembelahan

 

Jam 09.10

Fase gastrula

 

Jam 10.10

Fase gastrula

 

Jam 11.10

Fase gastrula

 

Jam 13.15

Fase blastula

 

Jam 14.00

Fase gastrula

 

Jam 15.00

Fase gastrula

 

Jam 16.00

Fase gastrula

 

Jam 17.00

Fase gastrula

 

Jam 18.00

Fase gastrula

 

Jam 19.00

Fase gastrula

 

Jam 20.00

Fase gastrula

 

Jam 21.00

Fase embriogenesis

 

Jam 00.00

Fase embriogenesis

 

Jam 01.00

Fase embriogenesis

 

Jam 02.00

Fase embriogenesis

 

Jam 03.00

menetas

 

 

Setelah induk ikan melakukan pemijahan maka sel telur dan sel sperma akan bertemu dan mengalami proses pembuahan (fertilisasi) yang akan membentuk zygot. Oleh karena itu pembuahan ini merupakan proses peleburan antara sel telur dan sel sperma untuk membentuk zygot. Setelah membentuk zygot maka setiap individu akan mengalami proses embriogenesis sebelum menetas nantinya. Perkembangan embrio dimulai dari pembelahan zygote (cleavage), stadia morula (morulasi), stadia blastula (blastulasi), stadia gastrula (gastrulasi) dan stadia organogenesis atau embryogenesis. Pada hasil pengamatan di atas fase persiapan pembelahan berlangsung selama 5 jam kemudian diikuti oleh fase gastrula selama 11 jam namun pada jam ke 4 didapatkan fase blastula hal ini dikarenakan fertilisasi tidak berlangsung secara merata sehingga adanya perbedaan fase pada seluruh telur tersebut. Setelah fase gastrula diikuti dengan fase embriogenesis dan setelah 23 jam telur tersebut menetas. Namun hasil data ini masih belum solid dikarenakan alat untuk mengamati yang masih belum dapat mendukung secara optimal pengamatan ini dan sulitnya memastikan perubahan keadaan telur tiap fase yang berbeda.

 

 

  1. V.                KESIMPULAN

 

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil pengamatan dan pembahasan di atas sebagai berikut:

  1. Ciri-ciri seksualitas primer dan sekunder dapat digunakan untuk mentukan perbedaan antara ikan jantan dan betina.
  2. Dalam pembuatan ekstraksi kelenjar pituitary menggunakan 1 kg ikan resipien dengan 3 kg ikan donor yang digerus dan ditambahkan NaCl 0,9%.
  3. Fertilisasi buatan dengan penyuntikan hormon ovaprim dilakukan secara bertahap dengan dosis yang berbeda.
  4. Setelah terbentuknya zigot akan berlangsung proses perkembangan telur yang dimulai dari fase (cleavage), stadia morula (morulasi), stadia blastula (blastulasi), stadia gastrula (gastrulasi) dan stadia organogenesis atau embriogenesis.


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anonim, 2011. Ikan Komet (goldfish). http://www.aqufish.net/show.php?h=goldfish1. Diakses tanggal 5 Juni 2011.

 

________, 2011. Ikan Nila. http: Wikipedia.org/ikan nila.org. diakses tanggal 5 juni 2011.

 

Anonim, 2009. Pembenihan Ikan Lele Dumbo. http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/31/teknik-pemijahan-lele dumbo-sistem-induced-breeding-kawin-suntik/. Diakses tanggal 5 Juni 2011.

 

Goernaso, 2005. Fisiologi Hewan. Universitas Terbuka. Jakarta.

 

Gusrina, 2008.  Budidaya Ikan untuk SMK. Pusat Perbukuan DepartemenPendidikan Nasional. Jakarta.

 

Guzfir, 2009. Klasifikasi Ikan Bawal. http://guzfir.blogspot.com. Diakses tanggal 5 Juni 2011

 

Suyanto, SR. 1991. Budidaya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya.

 

Tucker, C.S and Hargreaves, J.A., 2004. Biology and Culture of Channel Catfish. Elsevier. B.V. Amsterdam.

 

Zairin.M.J. 2002. Sex Reversal Memproduksi Benih Ikan Jantan dan Betina. Penebar Swadaya. Jakarta.

. 105 hal.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s